Selasa, 21 April 2015

Percobaan Penentuan Konsentrasi HCl dengan Titrasi



Percobaan Penentuan Konsentrasi HCl dengan Titrasi
I.                   Tujuan Praktikum
Peserta didik mampu menentukan konsentrasi larutan asam atau basa untuk menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit menggunakan titrasi asam – basa.

II.                Dasar Teori
Reaksi penetralan asam – basa dapat digunakan untuk menentukan kadar (konsentrasi) berbagai jenis larutan, khususnya yang terkait dengan reaksi asam – basa. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya. Demikian pula sebaliknya, kadar larutan basa ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya. Proses penentuan kadar larutan dengan cara ini disebut titrasi asam – basa.
Titrasi dilakukan untuk menetapkan molaritas suatu larutan dengan menggunakan larutan lain yang telah diketahui molaritasnya. Larutan peniter itu kita sebut larutan standar. Ketepatan (akurasi) dari konsentrasi larutan yang dititer, salah satunya bergantung pada kepastian molaritas dari larutan peniter. Jika molaritas larutan peniter tidak pasti, maka molaritas larutan yang dititer pastilah tidak akurat.
Pada percobaan ini, kita akan menentukan molaritas HCl dengan larutan NaOH 0,1 M. Untuk itu, sejumlah larutan HCl ditempatkan dalam Erlenmeyer, kemudian ditetesi dengan NaOH 0,1 M (dalam buret) sehingga keduanya ekuivalen (tepat habis bereaksi).
Titik ekuivalen dapat diketahui dengan bantuan indikator. Titrasi (penetesan) dihentikan tepat pada saat indikator menunjukkan perubahan warna. Saat indikator menunjukkan perubahan warna disebut titik akhir titrasi.

III.             Alat dan Bahan
Alat – alat :
No
Nama Alat
Ukuran
Jumlah
1
Buret
50 mL
1 buah
2
Erlenmeyer
250 mL
1 buah
3
Gelas kimia
250 mL
1 buah
4
Gelas ukur
50 mL
1 buah
5
Corong kaca
-
1 buah
6
Klem dan statif
-
1 buah
7
Labu ukur
100 mL
1 buah
8
Botol semprot
-
1 buah

Bahan :
No
Nama Bahan
Jumlah
1
Larutan NaOH 0,1 M
100 mL
2
Larutan HCl
10 mL
3
Indikator PP
10 tetes
4
Aquades
1 L

IV.             Cara Kerja
1.      Buatlah larutan NaOH 0,1 M sebanyak 100 mL.
2.      Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 M hingga 0 mL.
3.      Masukkan 10 mL larutan HCl yang tersedia ke dalam Erlenmeyer, kemudian tetesi dengan indikator PP sebanyak 3 tetes.
4.      Tetesi larutan HCl dengan larutan NaOH. Penetesan harus dilakukan secara hati – hati dan labu Erlenmeyer terus – menerus digoncangkan. Penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap yaitu merah muda.
5.      Hitung volume NaOH 0,1 M yang digunakan.
6.      Ulangi prosedur di atas hingga diperoleh tiga data yang hampir sama.

V.                Hasil Pengamatan
No
Volume NaOH yang dipakai
1
7,5 mL
2
5 mL
3
2,5 mL
4
6 mL

VI.             Analisis Data
Pertanyaan 1
1.      Volume rerata larutan NaOH 0,1 M yang digunakan . . . . .
2.      Jumlah mol NaOH yang digunakan . . . . .
3.      Jumlah mol HCl berdasarkan perbandingan koefisien reaksi.
NaOH (aq) + HCl (aq)            NaCl (aq) + O (l)
Sebesar . . . . .
4.      Molaritas larutan HCl tersebut adalah . . . . .
Pertanyaan 2
1.   Kegunaan dari PP (fenolftalein) adalah . . . . .
2.   Titik ekuivalen (dapat / tidak dapat)* ditentukan tanpa bantuan fenolftalein. *coret yang tidak perlu
Alasannya . . . . .
3.   Fenolftalein (dapat / tidak dapat)* diganti dengan indikator yang lain. *coret yang tidak perlu
4.   Contohnya dan perubahan warna yang diharapkan . . . . .

Jawaban Pertanyaan 1
1.      Volume rerata larutan NaOH 0,1 M yang digunakan :
 =  = 5,25 mL = 5,25 x  L
2.      Jumlah mol NaOH yang digunakan :
M = n x v = 0,1 x 5,25 mL = 0,525 mmol = 5,25 x  mol
3.      Jumlah mol HCl berdasarkan perbandingan koefisien reaksi.
NaOH (aq) + HCl (aq)            NaCl (aq) + O (l)
Sebesar :  x 0,525 = 0,525 mmol = 5,25 x  mol
4.      Molaritas larutan HCl tersebut adalah
M =  =  = 0,0525 mmol = 5,25 x  mol

Jawaban Pertanyaan 2
1.      Kegunaan dari PP (fenolftalein) adalah indikator fenolftalein menunjukkan perubahan warna yang dapat membantu kita menentukan titik akhir titrasi.
2.      Titik ekuivalen dapat ditentukan tanpa bantuan fenolftalein. Alasannya karena trayek pH untuk indikator PP adalah PP trayek pHnya 8,2 – 10,0.
3.      Fenolftalein dapat diganti dengan indikator yang lain.
4.      Contohnya dan perubahan warna yang diharapkan adalah
Trayek perubahan indikator
Indikator
Warna
pH
Metil jingga
Merah – kuning
3,4 – 4,4
Metil merah
Merah – kuning
4,4 – 6,2
Bromtimol biru
Kuning – biru
6,0 – 7,6
Fenolftalein
Tidak berwarna – merah
8,2 – 10,0


VII.          Kesimpulan


VIII.        
IX.             Daftar Pustaka
Susilowati, Endang.2007.SAINS KIMIA 2A.Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Utami, Budi.2007.KIMIA.Surakarta : CV. Haka MJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar